Lucky Charms Rainbow -->

Halaman

Rabu, 27 Februari 2013

Sejarah dan Kedudukan Bahasa Indonesia


Ø  Sejarah Bahasa Indonesia
1) Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Merdeka
Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu di pakai sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang di gunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara. Perkembangan dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai peninggalan-peninggalan misalnya:
  1. Tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380.
  2. Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683.
  3. Prasasti Talang Tuo, di Palembang pada Tahun 684.
  4. Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada Tahun 686.
  5. Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.
Dan pada saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai:
  1. Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.
  2. Bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar suku di Indonesia.
  3. Bahasa perdagangan baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun pedagang yang berasal dari luar Indonesia.
  4. Bahasa resmi kerajaan.
Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar kerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia. (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).

2) Perkembangan Bahasa Indonesia Sesudah Merdeka
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam rapat, para pemuda berikrar:

Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda ini di kenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Unsur yang ketiga dari “Sumpah Pemuda” merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 bahasa Indonesia dikokohkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di dalam UUD 1945 disebutkan bahwa “Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia (pasal 36). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagai bahasa kerja. Dari sudut pandang Linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu-Riau dari abad ke-19.
Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagi bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “Imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.
Proses ini menyebabkan berbedanya bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang di gunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan. Di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia. Bahasa Melayu dipakai dimana-mana di wilayah nusantara serta makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah-daerah di wilayah nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.

Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu diwilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan.

Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa di samping fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri kultural, yang ke dalam menunjukkan sesatuan dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa lain.
Ada empat faktor yang menyebabkan Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu:
  1. Bahasa melayu adalah merupakan Lingua Franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan.
  2. Sistem bahasa melayu sederhana, mudah di pelajari karena dalam bahasa melayu tidak di kenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  3. Suku Jawa, Suku Sunda, dan suku-suku yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
  4. Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
Berawal dari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia mempunyai fungsi majemuk, menjadi bahasa persatuan, bahasa Negara, bahasa resmi, bahasa penghubung antar individu, bahasa pergaulan, dan yang tak kalah penting sebagai bahasa pengantar di semua sekolah di Indonesia. Bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh beratus-ratus suku bangsa yang masing-masing mempunyai bahasa daerahnya yang menjadikannya bahasa pertama. Walaupun masih banyak orang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, sekarang makin banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama.

Tidak banyak Negara di dunia, terutama Negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia ke-2 yang sebenruntung bangsa Indonesia, begitu merdeka, kita memiliki bahasa nasional. Lihat saja Negara tetangga kita, Filipina, Singapura, Malaysia, India; menginginkan bahasa sendiri, tetapi sampai sekarang masih menggunakan bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Melayu, yaitu salah satu bahasa daerah di bumi nusantara ini. Bahasa Indonesia, digunakan sebagai salah satu alat yang mempersatukan bangsa yang bersuku-suku, untuk mengusir Belanda dan meraih kemerdekaan. Selanjutnya, bahasa ini digunakan dalam berbagai kehidupan secara luas, maka tidak ada yang memprotes ketika bahasa Melayu dinobatkan menjadi bahasa Indonesia.

Apakah sebenarnya Bahasa Indonesia?

         Prof. Dr. A. Teeuw (sarjana Belanda)
Bahasa Indonesia ialah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh dengan perlahan-lahan di kalangan penduduk Asia Selatan dan setelah bangkitnya pergerakan rakyat Indonesia pada abad XX dengan insyaf diangkat dan dimufakati serta dijunjung sebagai bahasa persatuan.

         Amin Singgih
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang dibuat, dimufakati, diakui serta digunakan oleh masyarakat seluruh Indonesia sehingga sama sekali bebas dari unsur-unsur bahasa daerah yang belum umum dalam bahasa kesatuan kita. Dengan kata lain, bahasa Indonesia ialah Bahasa Melayu yang sudah menyatu benar dengan bahasa suku-suku bangsa yang ada di kepulauan nusantara. Adapun bahasa menjadi bahasa pergaulan atau lingua franca seluruh Asia Tenggara.

Ø  Kedudukan Bahasa Indonesia
Kedudukan bahasa dapat diketahui melalui faktor-faktor berikut: (1) jumlah penuturnya; (2) luas penyebarannya; dan (3) peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang bernilai. Berdasarkan patokan pertama/jumlah penuturnya, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa ibu. Sebagai bahasa ibu, penutur bahasa Indonesia semakin bertambah. Pertambahan tersebut disebabkan arus urbanisasi, perkawinan antarsuku, keinginan generasi muda berbahasa Indonesia, dan banyaknya orang tua masa kini yang menghendaki anaknya sebagai penutur bahasa Indonesia.

Berdasarkan luas penyebarannya, bahasa Indonesia mempunyai kedudukan:
a)      Sebagai bahasa pertama yang dipakai di pantai timur Sumatra, di Pulau Riau dan Bangka, serta daerah pantai Kalimantan. Selain itu, juga di Manado, Ternate, Ambon, Banda, Larantuka, dan Kupang.
b)      Sebagai bahasa kedua, pemencarannya dapat disaksikan dari ujung barat sampai ke timur dan dari pucuk utara sampai ke batas selatan negeri kita.
c)      Sebagai bahasa asing, bahasa Indonesia dipelajari dan dipakai di kalangan terbatas di Australia, Filipina, Jepang, Korea, Rusia, Indisa, Ceko, Jerman, Perancis, Inggris, dan Amerika. Bahasa Malaysia atau Melayu termasuk rumpun yang sama dipakai di Singapura dan Brunei Darussalam.

Berdasarkan peranannya, bahasa Indonesia sebagai lingua franca, yakni bahasa orang yang latar budayanya berbeda-beda. Hal yang perlu diingat adalah kedudukan bahasa/pentingnya bahasa tidak didasarkan pada mutunya, besar kecilnya kosakata, keluwesan dalam tata kalimatnya, atau daya tangkapnya dalam gaya. Namun, kedudukan bahasa harus sejalan dengan perkembangan masyarakat pemakainya.

Ø  Fungsi Bahasa Indonesia
Bertolak dari kedudukan bahasa Indonesia di atas, fungsi bahasa Indonesia meliputi:
a.       Sebagai alat pemersatu
bahasa Indonesia mempersatukan masyarakat Indonesia dan meningkatkan proses identifikasi penutur di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
b.      Sebagai ciri khas suatu bangsa
Bahasa Indonesia memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat pemakainya dan membedakan bangsa Indonesua dengan bangsa lain.
c.       Sebagai pembawa kewibawaan
Ahli bahasa dan khalayak ramai di Indonesia pada umumnya berpendapat bahwa perkembangan bahasa Indonesia dapat dijadikan teladan bagi bangsa lain di Asia Tenggara yang juga memerlukan bahasa modern. Dengan mahir menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penutur dapat memperoleh wibawa di mata orang lain.
d.      Sebagai kerangka acuan
Bahasa Indonesia menjadi kerangka acuan fungsi estetika bahasa di bidang sastra dan pemakaian bahasa, seperti permainan kata, iklan, dan tajuk berita.

Sumber:
Rahayu, Minto. (2007) Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, Jakarta: Grasindo

Yustinah, dan Iskak, Ahmad. (2008) Bahasa Indonesia Tataran Madia untuk SMK dan MAK Kelas XI Standar isi 2006, Jakarta: Penerbit Erlangga.

http://jaririndu.blogspot.com/2012/01/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html Diakses pada tanggal 27 Februari 2013, pukul 20:22 WIB.

Tujuan Ilmu Pengetahuan


Dalam pertemuan kedua mata kuliah Metodologi Penelitian kali ini membahas tentang apa saja tujuan dari ilmu pengetahuan. Menurut Drs R.B.S. Fudyartanta, dosen psikologi Universitas Gajah Mada menyebutkan empat tujuan ilmu pengetahuan, yaitu:

1. Deskriptif
Deskriptif merupakan level terendah dalam tujuan ilmu pengetahuan. Deskriptif ialah menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari. Misalnya, dijelaskan di dalam hutan terdapat banyak makhluk hidup seperti singa, gajah, monyet serta berbagai macam tumbuhan yang cantik warna serta penampilannya, ditambah banyak sekali tumbuhan hijau yang tumbuh disekitar hutan. Disana digambarkan keadaan hutan yang diisi oleh berbagai macam makhluk hidup, namun belum dijelaskan secara mendetail bagaimana interaksi antara makhluk hidup tersebut.

2. Eksplanatori
Eksplanatori merupakan salah satu tujuan ilmu pengetahuan yang kaitannya adalah menjelaskan hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa atau kejadian. Eksplanatori bertitik pada pertanyaan dasar “mengapa”. Misalnya adalah muncul sebuah pertanyaan mengapa lebah memakan nektar pada bunga? Jawabannya adalah karena nektar yang dihasilkan bunga tersebut dapat menghasilkan madu yang berguna untuk kesehatan manusia. Bunga yang nektarnya di makan oleh lebah juga akan tumbuh subur dan akan cepat proses fertilisasinya atau pembuahannya. Jadi, timbullah hubungan sebab-akibat itu.
  
3. Prediktif
Prediktif ialah ilmu pengetahuan mampu memprediksi atau meramalakan kemungkinan besar apa yang akan terjadi sehingga dapat dicari pencegahannya. Contohnya, curah hujan di Bogor sangat tinggi dan sungai-sungai meluap, BMKG meramalkan banjir akan sampai Jakarta pada waktu-waktu tertentu, maka dari itu warga Jakarta dihimbau waspada dan segera evakuasi diri ke tenda-tenda pengungsian. BMKG adalah badan yang meneliti tentang kejadian-kejadian alam, mereka mampu memprediksikan apa yang akan terjadi, dan tindakan apa yang seharusnya dilakukan.

4. Rasa memahami atau kesadaran
Setelah mendapat informasi atau ilmu pengetahuan, manusia diharapkan memiliki rasa memahami atau memiliki kesadaran akan sesuatu yang akan terjadi. Misalnya, BMKG telah memberitahukan mengenai ramalan cuaca hari ini bahwa Jakarta akan diguyur hujan. Jika kita memiliki kesadaran akan hal tersebut, kita akan membawa payung untuk mengantisipasi hujan yang akan datang. Contoh lainnya, para pengamat kebudayaan memprediksikan bahwa budaya dari suatu daerah akan punah jika kita tidak menjaganya. Hal itu akan membuat diri kita paham serta sadar, maka kita akan menjaga budaya kita agar tidak punah atau diakui Negara lain.

Kebenaran Ilmiah
Dalam kajian falsafati dikenal berbagai teori kebenaran ilmiah. Karena tujuan utama berfilsafat adalah mencintai kebenaran yang ditunjukkan dengan upaya terus-menerus untuk mencari kebenaran yang saling melengkapi satu sama lain. Kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Dikenal ada tiga macam teori kebenaran, yaitu:

1. Teori Kebenaran Koherensi
Teori kebenaran koherensi menyatakan bahwa sesuatu hal atau pernyataan dikatakan benar apabila mempunyai keselarasan logis dengan pernyataan lain. Artinya, ada konsistensi antara pernyataan satu dengan pertanyaan yang lain. Misalnya, pernyataan 1) “Manusia adalah makhluk berakal budi, 2) “Rina adalah manusia, 3) “Rina berakal budi.
Didalam teori dan hukum-hukum ilmiah maupun di dalam norma-norma hidup bermasyarakat, umumnya dikenal peryataan-pernyataan yang runtut dan logis sebagai pegangan manusia dalam melakukan suatu tindakan. Semuanya diperoleh dari hasil berpikir yang didasarkan pada teori kebenaran koherensi.[1] Misalnya, dalam setiap penelitian harus dilandasi dengan referensi (daftar pustaka).

2. Teori Kebenaran Korespondensi
Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandungnya berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut atau sesuai dengan faktanya. Ibu kota Negara Indonesia adalah Jakarta, adalah benar karena pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi dan fakta bahwa ibu kota Negara Indonesia adalah Kuala Lumpur, orang tidak akan percaya karena tidak terdapat objek yang mempunyai korespondensi dengan pernyataan tersebut. Dalam hal penelitian setiap kesimpulan harus berdasarkan atas fakta/data (analisis data).[2]

3. Teori Kebenaran Pragmatis
Pernyataan dianggap benar karena pernyataan itu mempunyai sifat pragmatis atau fungsional dalam kehidupan praktis, dapat dipraktikkan dan didayagunakan bagi kehidupan manusia di dunia. Dalam hal penelitian didasarkan atas tujuan dan kegunaan.[3]

Mengapa manusia mulai mengatamati sesuatu?
Jawaban dari pertanyaan diatas adalah karena manusia mempunyai perhatian tertentu terhadap suatu objek. Analoginya adalah manusia kecendrungannya adalah suka memperhatikan sesuatu. Sesuatu tersebut bisa berupa orang, benda, dan gejala. Namun, manusia biasanya lebih suka memperhatikan orang daripada memperhatikan benda. Kedudukan yang paling tertinggi ialah manusia yang gemar mengamati atau memperhatikan gejala-gejala yang timbul di alam maupun di masyarakat. Dari gejala tersebut dapat ditarik suatu gagasan, gagasan ini bisa memberikan suatu solusi untuk mengatasi gejala-gejala permasalahan tersebut.
Perhatian itu oleh John Dewey dinamakan sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila manusia menemukan sesuatu dalam pengalamannya yang menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan “mengapa” pun timbul karena adanya kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai macam permasalahan.

Reaksi Manusia Menghadapi Masalah
Peursen (1976:18) mengemukakan sikap manusia mengahadapi suatu permasalahan, yaitu mistis, ontologis, dan fungsional.[4] Pada zaman dulu, sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan pikiran-pikiran manusia banyak mengarah kepada hal-hal mistis. Misalnya pada suatu daerah terjadi bencana gunung meletus, secara ilmiah gunung meletus bisa dipelajari penyebabnya. namun, pada zaman belum berkembangnya ilmu pengetahuan peristiwa gunung meletus dianggap sebagai hal yang mistis atau gaib.

Setelah berkembangnya zaman, sikap manusia mengahadapi suatu peristiwa adalah dengan cara berpikir ontologis. Cara berpikir ontologis adalah bukan lagi membahas soal hal-hal yang gaib melainkan mengaitkan suatu peristiwa dengan suatu objek yang saling berhubungan. Misalnya, terjadi bencana alam banjir. Sikap ontologis ini bukan mengarah kepada dewa-dewa yang murka, namun menganggap bahwa kejadian banjir tersebut karena curah hujan yang tinggi yang terjadi terus-menerus. Maka, atas kejadian banjir tersebut manusia memikirkan solusinya agar tidak banjir, dengan cara membuat banyak waduk disekitar daerah tersebut.

Sesungguhnya pendekatan secara ontologis ini merupakan dialog antara manusia dengan alam. Dan sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan adalah melakukan pemahaman dan dialog dengan alam agar manusia lebih mengenal karakter alam sehingga dapat mengantisipasi reaksi dan akibat dari segala perilaku manusia terhadap alam. Sinyal untuk mendekati fenomena alam secara ontologis sesungguhnya telah termaktub dalam wahyu pertama Alquran, yaitu perintah iqra (perintah untuk membaca).

Pada tahap ketiga, manusia memiliki sikap fungsional dalam menghadapi suatu hal. Tahap fungsional adalah sikap dan alam pikiran yang makin tampak dalam manusia modern. Ia lebih mementingkan relasi, bukan distansi.[5] Pada tahap ini manusia menempati posisi lebih tinggi dari alam. Dalam tahap ini manusia diberikan keleluasaan untuk mendayagunakan alam. Dalam al-quran manusia telah diberi rambu-rambu agar tidak merusak alam. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan harusnya manusia mampu mengantisipasi konsekuensi dari dampak apabila manusia merusak alam. Jadi, sikap fungsional ini harus dibarengi dengan tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk memakai sumber daya alam yang ada.


[1] HM. Nasruddin Anshoriy, Ch. Dekonstruksi Kekuasaan Konsolidasi Semangat Kebangsaan, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta (2008) Hlm. 157.
[2] Minto Rahayu. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, Jakarta: Grasindo (2007) Hlm. 55.
[3] Ibid. Hlm. 56
[4] Wahyudi Siswanto. Pengantar Teori Sastra, Jakarta: Grasindo (2008) Hlm. 55.
[5] Ibid.

Senin, 25 Februari 2013

Macam-macam/Tingkat Pengetahuan


Biasanya isi blog ini cuma curhatan gue.. tapi kali ini mau posting tugas.. lumayan mungkin bisa nambah wawasan yang baca. Aamiin.... :)

Pada pertemuan pertama mata kuliah Metodologi Penelitian materi yang disampaikan oleh Bapak  Dr. M. Japar, M.Si adalah tentang Macam-macam/Tingkat Pengetahuan. Macam-macam pengetahuan terdiri dari tiga jenis yaitu Ilmu, Filsafat, dan Agama.  Sebelum menjelaskan mengenai ilmu, filsafat, dan agama terlebih dahulu saya akan menjelaskan pengertian dari pengetahuan. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui sebagai hasil dari interaksi panca indera dengan suatu objek. Pada sekitar 500 SM ada sekelompok filosof di koloni Yunani Elea di Italia Selatan, adalah Parmenides dan Heraclitus yang mempunyai pertentangan pendapat mengenai interaksi  indera.
“Parmenides mengemukakan bahwa persepsi indera tidak dapat dipercaya. Dia yakin bahwa indera-indera kita memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak sesuai dengan akal kita. Sementara Heraclitus menjelaskan bahwa indera kita dapat dipercaya”.[1]
Pertentangan pendapat ini merupakan hasil dari pengetahuan yang dimiliki oleh para filosof tersebut, sesuai dengan pengalaman mereka. Pengalaman adalah salah satu cara memperoleh pengetahuan. Selain pengalaman, cara memperoleh pengetahuan adalah dengan menggunakan intuisi, bisa dengan otoritas, wahyu, logika, serta metode ilmiah.
Intuisi adalah naluri yang telah mendapatkan kesadaran diri, yang dicakapkan untuk memikirkan sasarannya serta memperluas sasaran itu menurut kehendak sendiri tanpa batas. Intuisi adalah suatu bentuk pemikiran yang berbeda dengan akal sebab pemikiran intuisi bersifat dinamis.[2] Penggunaan intuisi tidak dapat dikategorikan sebagai bagian dari metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan. Intuisi biasanya digunakan sebagai pelengkap dari serangkaian kegiatan ilmiah, jika situasi dan kondisi memungkinkan untuk itu. Misalnya, seorang dokter saat memberi pengobatan, seorang psikolog saat memberi nasihat pada klien, mereka semua sedikit banyak pasti menggunakan intuisi.[3]
Otoritas yaitu pengetahuan yang diperoleh dari seseorang yang dianggap mempunyai wewenang atau sangat dihormati. Dengan demikian, pendapat tersebut tidak dapat dibantah lagi, walaupun pendapat tersebut didasari alasan yang lemah atau bahkan tidak masuk akal. Fisikawan Einstein, psikoanalis Sigmund Freud atau ekonom Keynes yang merupakan para ahli dibidangnya masing-masing juga dianggap orang-orang yang memiliki otoritas atau keahlian. Pendapat mereka didasari alasan-alasan yang dapat dikategorikan ilmiah, saran mereka dapat saja diterima atau ditolak, dan merka juga bersedia untuk dikritisi.[4]
Wahyu merupakan sumber pengetahuan yang paling autentik dan paling kuat, tetap mempunyai arena dan tempat sendiri, punya posisi dan hegemoni sendiri. Menjadikan wahyu Ilahi sebagai asal yang autentik dan dominan sebagai salah satu sumber pengetahuan, tidak berarti mengahapus peran akal manusia dan tidak mencekal peran usaha manusiawi. Sebagaimana adanya alam semesta tidak mengahapus peran rasio, justru membuka pintu yang luas bagi pengetahuan untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut.[5]
Logika juga merupakan salah satu cara kita untuk dapat memperoleh pengetahuan mengenai sesuatu hal. Cara penggunaan logika adalah dengan menggunakan akal manusia secara rasional. Misalnya:
­          Semua manusia akan mati (premis pertama)
­          Andi adalah seorang manusia (premis kedua)
­          Andi akan mati (kesimpulan)
Contoh diatas merupakan salah satu contoh kalimat silogisme. Aristoteles merupakan pendiri ilmu Logika. Dia menunjukkan sejumlah hukum yang mengatur kesimpulan-kesimpulan atau bukti-bukti yang sah. Contoh kalimat silogisme diatas merupakan pembuktian bahwa logika Aristoteles didasarkan atas kolerasi pengertian, dalam hal ini “manusia” dan “akan mati” .[6]

Dan yang terakhir adalah dengan menggunakan Metode Ilmiah. Metode ilmiah bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan metode induksi dan metode deduksi. Metode induksi merupakan cara penalaran yang bersifat induktif berarti orang bergerak dari bawah menuju keatas.[7] Artinya, dalam hal ini orang mengawali suatu penalaran dengan memberikan contoh-contoh tentang peristiwa-peristiwa khusus yang sejenis kemudian menarik kesimpulannya yang bersifat umum. Metode induksi harus melihat kenyataan atau fakta yang terjadi pada suatu peristiwa secara empiris.
Metode deduksi merupakan metode yang paling tua keberadaannya, karena metode deduksi ialah metode yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat umum kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.[8] Apabila orang menerapkan cara penalaran yang bersifat deduktif berarti orang bergerak dari atas menuju ke bawah, dari teori yang disampaikan para ahli menuju pemikiran rasionalis.
Dalam memperoleh pengetahuan melalui cara metode ilmiah dengan menggunakan metode induksi maupun deduksi tidak bisa dipisahkan begitu saja. Keduanya harus saling berkesinambungan satu sama lain. Misalanya, dalam suatu perkara kasus korupsi yang ditangani oleh KPK, KPK harus berpikir secara deduktif terlebih dahulu dengan melihat serta memahami aturan-aturan yang berlaku didalam Undang-undang Anti Korupsi, lalu selanjutnya KPK mengeluarkan dugaan sementara atau hipotesa kepada tersangka, dan menggunakan cara berpikir induktif untuk mencari bukti serta fakta-fakta yang ada dalam suatu kasus tersebut.
Setelah membahas mengenai cara-cara memperoleh pengetahuan, selanjutnya akan dijelaskan mengenai pembahasan utama yaitu macam-macam pengetahuan dari mulai Ilmu, Filsafat, hingga Agama. Akan dijelaskan mengenai definisi, dan kaitan antar pengetahuan tersebut. Dimulai dari pengertian Ilmu. Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan pertanyaan ini. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Ilmu memang memberikan kebenaran namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya kebenaran dalam hidup kita ini. Terdapat berbagai sumber kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan kita, dan semua kebenaran itu mempunyai manfaat asal diletakkan pada tempatnya yang layak.[9]
Einstein menyatakan bahwa, “Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Dan kepada merekalah, mereka yang ingin mendapatkan kepuasan dari berpikir keilmuan, mereka yang menganggap berpikir bukan sebagai suatu beban, namun petualangan yang mengasyikan, mereka yang melihat kebenaran sebagai tujuan utama berkehidupan, mereka yang ingin mengkaji hakekat kehidupan dengan lebih mendalam maka kepada merekalah karangan dipersembahkan.[10]
Berlainan dengan agama atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia.[11]
Yang kedua adalah Filsafat. Menurut Hasbullah Bakri, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang mendalam mengenai Ketuhanan alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan.[12]
Hubungan filsafat dengan agama ialah bahwa filsafat suatu agama theologi (ilmu agama) membahas membahas dasar-dasar yang terdalam tentang sesuatu agama tertentu, misalnya: theologi Islam, theologi Nasrani dan theologi Yahudi. Pembahasannya masing-masing tidak lagi mempermasalahkan kebenaran agama yang dibahasnya itu, karena telah diterima sepenuhnya sebagai kebenaran. Sifat pembahasannya juga bersifat analitis, rational, dan kritis dengan tujuan memberikan alasan rational dari pembenaran agama itu. [13]
Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti “tradisi”, sedangkan dalam konsep lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Jika pengetahuan bersumber dari keyakinan terhadap ajaran suatu agama, pengetahuan semacam ini disebut pengetahuan agama.[14] Tingkatan pengetahuan yang paling tertinggi adalah agama. Agama berasal dari wahyu Tuhan. Ilmu, Filsafat, dan Agama berjalan secara sendiri-sendiri tidak saling berbenturan atau bertentangan satu sama lain.


[1] Jostein Gaarder, Dunia Sophie Sebuah Novel Filsafat, Bandung: PT Mizan Pustaka (2004) Hlm. 52.
[2] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern, Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara (2004) Hlm. 144.
[3] Singgih Santoso, Kupas Tuntas Riset EKSPERIMEN dengan Excel 2007 dan Minitab 15, Jakarta: PT Elex Media Komputindo (2010) Hlm. 3.
[4] Ibid. Hlm. 4.
[5] Abdul Majid an-Najjar, Khilafah Tinjauan Wahyu dan Akal, Jakarta: Gema Insani Press (2005) Hlm. 8.
[6] Jostein Gaarder, Op. Cit. Hlm. 133.
[7] Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada (2004) Hlm. 57.
[8] Ibid. Hlm. 58.
[9] Jujun S. Sumantri, Ilmu dalam Perspketif, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (2003) Hlm. 3.
[10] Ibid. Hlm. 4.
[11] Ibid. Hlm. 5.
[12] Sudarto, Op. Cit. Hlm. 7.
[13] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta: PT Bumi Aksara (2008) Hlm. 6.
[14] Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Jakarta: Gramedia Pustaka (2007) Hlm. 2.

Jumat, 08 Februari 2013

Jelas

Semua hal yang meragu kini telah menjadi suatu kejelasan yang kekal
Aku mulai melangkah dan berjalan sendiri (lagi)
Seperti sebelumku mengenal kamu, seperti saat dulu aku acuh terhadapmu

Aku berharap keadaan kembali kesedia kala dimana kita tak saling mengenal
Aku ingin memutar waktuku untuk sekedar ku tahan semua rasaku terhadapmu dulu
Aku hanya... hanya ingin menguatkan hatiku, bahwa semuanya sudah berakhir

Ini sebuah perjalanan hidup
Untuk sekarang tak mau kubuka hatiku untuk siapapun, termasuk untuk dirimu
Aku ingin sendiri, menikmati hidupku
Jika nanti aku telah siap, akan langsung kuterima cincin dari entah dari siapapun jodohku

Sabtu, 02 Februari 2013

Percaya

Halo dunia.
Tahukah kamu apa yang sedang ku pikirkan saat ini?
Ya, semua hal yang bisa membuatku tenang dan bahagia.
Aku sedang memikirkan semuanya... semua kenangan yang kau torehkan dihatiku. Sudah barang tentu, kenangan yang membahagiakan, karena bagiku segala sesuatu yang membuatku sedih hanya menyita waktuku saja, dan apapun yang membuat ku sedih hanya menggoreskan luka.
Aku telah lelah. Lelah menghadapinya.
Lakukan apa yang menurutmu bisa membuat dirimu nyaman. Dan begitu pula aku, aku akan melakukan apa yang membuatku nyaman.
Jujur saja, berat dan susah untukku menghadapinya, aku yakin waktu bisa menjawab dan mengakhiri ini semua.

Tarik napas, dan keluarkan perlahan.
Aku mulai merasa rilex.

Bagiku apa yang terjadi saat ini merupakan proses pendewasaan diri. Pada hakikatnya, semua orang harus terjatuh terlebih dahulu baru bisa merasakan apa yang disebut dengan kebahagiaan, bukan begitu?
Hembusan napas ku beradu dengan terpaan angin yang menusuk kedalam rongga hatiku.
Aku tak pernah menyesal dengan apa yang terjadi dengan ku saat ini. Ya... seperti katamu, penyesalan takkan pernah ada untuk mereka yang bijaksana, Mungkin ini yang dinamakan sebuah takdir.

Aku sakit. menjerit. kemarin...

Ada sebuah alasan mengapa saat ini aku bisa tersenyum, sebuah alasan itu ialah aku percaya bahwa setelah ini akan ada sosok yang lebih baik, yang bisa membuatku mempertahankan senyum ku saat ini. Aku mengimaninya. Tuhan... kabulkan doaku, hanya doa yang bisa kupanjatkan, tiada satupun yang bisa kuharapkan kecuali kebahagiaan yang hakiki yang hanya datang dari ridho-Mu.

Menatap kedepan, dan berjalan seolah semuanya baik-baik saja.