Lucky Charms Rainbow -->

Halaman

Rabu, 27 Februari 2013

Tujuan Ilmu Pengetahuan


Dalam pertemuan kedua mata kuliah Metodologi Penelitian kali ini membahas tentang apa saja tujuan dari ilmu pengetahuan. Menurut Drs R.B.S. Fudyartanta, dosen psikologi Universitas Gajah Mada menyebutkan empat tujuan ilmu pengetahuan, yaitu:

1. Deskriptif
Deskriptif merupakan level terendah dalam tujuan ilmu pengetahuan. Deskriptif ialah menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari. Misalnya, dijelaskan di dalam hutan terdapat banyak makhluk hidup seperti singa, gajah, monyet serta berbagai macam tumbuhan yang cantik warna serta penampilannya, ditambah banyak sekali tumbuhan hijau yang tumbuh disekitar hutan. Disana digambarkan keadaan hutan yang diisi oleh berbagai macam makhluk hidup, namun belum dijelaskan secara mendetail bagaimana interaksi antara makhluk hidup tersebut.

2. Eksplanatori
Eksplanatori merupakan salah satu tujuan ilmu pengetahuan yang kaitannya adalah menjelaskan hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa atau kejadian. Eksplanatori bertitik pada pertanyaan dasar “mengapa”. Misalnya adalah muncul sebuah pertanyaan mengapa lebah memakan nektar pada bunga? Jawabannya adalah karena nektar yang dihasilkan bunga tersebut dapat menghasilkan madu yang berguna untuk kesehatan manusia. Bunga yang nektarnya di makan oleh lebah juga akan tumbuh subur dan akan cepat proses fertilisasinya atau pembuahannya. Jadi, timbullah hubungan sebab-akibat itu.
  
3. Prediktif
Prediktif ialah ilmu pengetahuan mampu memprediksi atau meramalakan kemungkinan besar apa yang akan terjadi sehingga dapat dicari pencegahannya. Contohnya, curah hujan di Bogor sangat tinggi dan sungai-sungai meluap, BMKG meramalkan banjir akan sampai Jakarta pada waktu-waktu tertentu, maka dari itu warga Jakarta dihimbau waspada dan segera evakuasi diri ke tenda-tenda pengungsian. BMKG adalah badan yang meneliti tentang kejadian-kejadian alam, mereka mampu memprediksikan apa yang akan terjadi, dan tindakan apa yang seharusnya dilakukan.

4. Rasa memahami atau kesadaran
Setelah mendapat informasi atau ilmu pengetahuan, manusia diharapkan memiliki rasa memahami atau memiliki kesadaran akan sesuatu yang akan terjadi. Misalnya, BMKG telah memberitahukan mengenai ramalan cuaca hari ini bahwa Jakarta akan diguyur hujan. Jika kita memiliki kesadaran akan hal tersebut, kita akan membawa payung untuk mengantisipasi hujan yang akan datang. Contoh lainnya, para pengamat kebudayaan memprediksikan bahwa budaya dari suatu daerah akan punah jika kita tidak menjaganya. Hal itu akan membuat diri kita paham serta sadar, maka kita akan menjaga budaya kita agar tidak punah atau diakui Negara lain.

Kebenaran Ilmiah
Dalam kajian falsafati dikenal berbagai teori kebenaran ilmiah. Karena tujuan utama berfilsafat adalah mencintai kebenaran yang ditunjukkan dengan upaya terus-menerus untuk mencari kebenaran yang saling melengkapi satu sama lain. Kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Dikenal ada tiga macam teori kebenaran, yaitu:

1. Teori Kebenaran Koherensi
Teori kebenaran koherensi menyatakan bahwa sesuatu hal atau pernyataan dikatakan benar apabila mempunyai keselarasan logis dengan pernyataan lain. Artinya, ada konsistensi antara pernyataan satu dengan pertanyaan yang lain. Misalnya, pernyataan 1) “Manusia adalah makhluk berakal budi, 2) “Rina adalah manusia, 3) “Rina berakal budi.
Didalam teori dan hukum-hukum ilmiah maupun di dalam norma-norma hidup bermasyarakat, umumnya dikenal peryataan-pernyataan yang runtut dan logis sebagai pegangan manusia dalam melakukan suatu tindakan. Semuanya diperoleh dari hasil berpikir yang didasarkan pada teori kebenaran koherensi.[1] Misalnya, dalam setiap penelitian harus dilandasi dengan referensi (daftar pustaka).

2. Teori Kebenaran Korespondensi
Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandungnya berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut atau sesuai dengan faktanya. Ibu kota Negara Indonesia adalah Jakarta, adalah benar karena pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi dan fakta bahwa ibu kota Negara Indonesia adalah Kuala Lumpur, orang tidak akan percaya karena tidak terdapat objek yang mempunyai korespondensi dengan pernyataan tersebut. Dalam hal penelitian setiap kesimpulan harus berdasarkan atas fakta/data (analisis data).[2]

3. Teori Kebenaran Pragmatis
Pernyataan dianggap benar karena pernyataan itu mempunyai sifat pragmatis atau fungsional dalam kehidupan praktis, dapat dipraktikkan dan didayagunakan bagi kehidupan manusia di dunia. Dalam hal penelitian didasarkan atas tujuan dan kegunaan.[3]

Mengapa manusia mulai mengatamati sesuatu?
Jawaban dari pertanyaan diatas adalah karena manusia mempunyai perhatian tertentu terhadap suatu objek. Analoginya adalah manusia kecendrungannya adalah suka memperhatikan sesuatu. Sesuatu tersebut bisa berupa orang, benda, dan gejala. Namun, manusia biasanya lebih suka memperhatikan orang daripada memperhatikan benda. Kedudukan yang paling tertinggi ialah manusia yang gemar mengamati atau memperhatikan gejala-gejala yang timbul di alam maupun di masyarakat. Dari gejala tersebut dapat ditarik suatu gagasan, gagasan ini bisa memberikan suatu solusi untuk mengatasi gejala-gejala permasalahan tersebut.
Perhatian itu oleh John Dewey dinamakan sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila manusia menemukan sesuatu dalam pengalamannya yang menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan “mengapa” pun timbul karena adanya kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai macam permasalahan.

Reaksi Manusia Menghadapi Masalah
Peursen (1976:18) mengemukakan sikap manusia mengahadapi suatu permasalahan, yaitu mistis, ontologis, dan fungsional.[4] Pada zaman dulu, sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan pikiran-pikiran manusia banyak mengarah kepada hal-hal mistis. Misalnya pada suatu daerah terjadi bencana gunung meletus, secara ilmiah gunung meletus bisa dipelajari penyebabnya. namun, pada zaman belum berkembangnya ilmu pengetahuan peristiwa gunung meletus dianggap sebagai hal yang mistis atau gaib.

Setelah berkembangnya zaman, sikap manusia mengahadapi suatu peristiwa adalah dengan cara berpikir ontologis. Cara berpikir ontologis adalah bukan lagi membahas soal hal-hal yang gaib melainkan mengaitkan suatu peristiwa dengan suatu objek yang saling berhubungan. Misalnya, terjadi bencana alam banjir. Sikap ontologis ini bukan mengarah kepada dewa-dewa yang murka, namun menganggap bahwa kejadian banjir tersebut karena curah hujan yang tinggi yang terjadi terus-menerus. Maka, atas kejadian banjir tersebut manusia memikirkan solusinya agar tidak banjir, dengan cara membuat banyak waduk disekitar daerah tersebut.

Sesungguhnya pendekatan secara ontologis ini merupakan dialog antara manusia dengan alam. Dan sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan adalah melakukan pemahaman dan dialog dengan alam agar manusia lebih mengenal karakter alam sehingga dapat mengantisipasi reaksi dan akibat dari segala perilaku manusia terhadap alam. Sinyal untuk mendekati fenomena alam secara ontologis sesungguhnya telah termaktub dalam wahyu pertama Alquran, yaitu perintah iqra (perintah untuk membaca).

Pada tahap ketiga, manusia memiliki sikap fungsional dalam menghadapi suatu hal. Tahap fungsional adalah sikap dan alam pikiran yang makin tampak dalam manusia modern. Ia lebih mementingkan relasi, bukan distansi.[5] Pada tahap ini manusia menempati posisi lebih tinggi dari alam. Dalam tahap ini manusia diberikan keleluasaan untuk mendayagunakan alam. Dalam al-quran manusia telah diberi rambu-rambu agar tidak merusak alam. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan harusnya manusia mampu mengantisipasi konsekuensi dari dampak apabila manusia merusak alam. Jadi, sikap fungsional ini harus dibarengi dengan tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk memakai sumber daya alam yang ada.


[1] HM. Nasruddin Anshoriy, Ch. Dekonstruksi Kekuasaan Konsolidasi Semangat Kebangsaan, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta (2008) Hlm. 157.
[2] Minto Rahayu. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, Jakarta: Grasindo (2007) Hlm. 55.
[3] Ibid. Hlm. 56
[4] Wahyudi Siswanto. Pengantar Teori Sastra, Jakarta: Grasindo (2008) Hlm. 55.
[5] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar