Dalam
pertemuan kedua mata kuliah Metodologi Penelitian kali ini membahas tentang apa
saja tujuan dari ilmu pengetahuan. Menurut Drs R.B.S. Fudyartanta, dosen
psikologi Universitas Gajah Mada menyebutkan empat tujuan ilmu pengetahuan,
yaitu:
1. Deskriptif
Deskriptif
merupakan level terendah dalam tujuan ilmu pengetahuan. Deskriptif ialah
menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu obyek atau masalah sehingga
mudah dipelajari. Misalnya, dijelaskan di dalam hutan terdapat banyak makhluk
hidup seperti singa, gajah, monyet serta berbagai macam tumbuhan yang cantik
warna serta penampilannya, ditambah banyak sekali tumbuhan hijau yang tumbuh
disekitar hutan. Disana digambarkan keadaan hutan yang diisi oleh berbagai
macam makhluk hidup, namun belum dijelaskan secara mendetail bagaimana
interaksi antara makhluk hidup tersebut.
2. Eksplanatori
Eksplanatori
merupakan salah satu tujuan ilmu pengetahuan yang kaitannya adalah menjelaskan
hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa atau kejadian. Eksplanatori bertitik
pada pertanyaan dasar “mengapa”. Misalnya adalah muncul sebuah pertanyaan
mengapa lebah memakan nektar pada bunga? Jawabannya adalah karena nektar yang
dihasilkan bunga tersebut dapat menghasilkan madu yang berguna untuk kesehatan
manusia. Bunga yang nektarnya di makan oleh lebah juga akan tumbuh subur dan
akan cepat proses fertilisasinya atau pembuahannya. Jadi, timbullah hubungan
sebab-akibat itu.
3. Prediktif
Prediktif
ialah ilmu pengetahuan mampu memprediksi atau meramalakan kemungkinan besar apa
yang akan terjadi sehingga dapat dicari pencegahannya. Contohnya, curah hujan
di Bogor sangat tinggi dan sungai-sungai meluap, BMKG meramalkan banjir akan
sampai Jakarta pada waktu-waktu tertentu, maka dari itu warga Jakarta dihimbau
waspada dan segera evakuasi diri ke tenda-tenda pengungsian. BMKG adalah badan
yang meneliti tentang kejadian-kejadian alam, mereka mampu memprediksikan apa
yang akan terjadi, dan tindakan apa yang seharusnya dilakukan.
4. Rasa memahami atau kesadaran
Setelah
mendapat informasi atau ilmu pengetahuan, manusia diharapkan memiliki rasa
memahami atau memiliki kesadaran akan sesuatu yang akan terjadi. Misalnya, BMKG
telah memberitahukan mengenai ramalan cuaca hari ini bahwa Jakarta akan diguyur
hujan. Jika kita memiliki kesadaran akan hal tersebut, kita akan membawa payung
untuk mengantisipasi hujan yang akan datang. Contoh lainnya, para pengamat
kebudayaan memprediksikan bahwa budaya dari suatu daerah akan punah jika kita
tidak menjaganya. Hal itu akan membuat diri kita paham serta sadar, maka kita
akan menjaga budaya kita agar tidak punah atau diakui Negara lain.
Kebenaran Ilmiah
Dalam
kajian falsafati dikenal berbagai teori kebenaran ilmiah. Karena tujuan utama
berfilsafat adalah mencintai kebenaran yang ditunjukkan dengan upaya
terus-menerus untuk mencari kebenaran yang saling melengkapi satu sama lain. Kebenaran
adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan
kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang
dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Secara umum orang merasa bahwa
tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Dikenal ada tiga macam
teori kebenaran, yaitu:
1.
Teori Kebenaran Koherensi
Teori
kebenaran koherensi menyatakan bahwa sesuatu hal atau pernyataan dikatakan
benar apabila mempunyai keselarasan logis dengan pernyataan lain. Artinya, ada
konsistensi antara pernyataan satu dengan pertanyaan yang lain. Misalnya,
pernyataan 1) “Manusia adalah makhluk berakal budi, 2) “Rina adalah manusia, 3)
“Rina berakal budi.
Didalam
teori dan hukum-hukum ilmiah maupun di dalam norma-norma hidup bermasyarakat,
umumnya dikenal peryataan-pernyataan yang runtut dan logis sebagai pegangan
manusia dalam melakukan suatu tindakan. Semuanya diperoleh dari hasil berpikir
yang didasarkan pada teori kebenaran koherensi.[1]
Misalnya, dalam setiap penelitian harus dilandasi dengan referensi (daftar
pustaka).
2.
Teori Kebenaran Korespondensi
Suatu
pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandungnya berhubungan
atau mempunyai korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut
atau sesuai dengan faktanya. Ibu kota Negara Indonesia adalah Jakarta, adalah
benar karena pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi dan
fakta bahwa ibu kota Negara Indonesia adalah Kuala Lumpur, orang tidak akan
percaya karena tidak terdapat objek yang mempunyai korespondensi dengan
pernyataan tersebut. Dalam hal penelitian setiap kesimpulan harus berdasarkan
atas fakta/data (analisis data).[2]
3.
Teori Kebenaran Pragmatis
Pernyataan
dianggap benar karena pernyataan itu mempunyai sifat pragmatis atau fungsional
dalam kehidupan praktis, dapat dipraktikkan dan didayagunakan bagi kehidupan
manusia di dunia. Dalam hal penelitian didasarkan atas tujuan dan kegunaan.[3]
Mengapa manusia mulai mengatamati
sesuatu?
Jawaban
dari pertanyaan diatas adalah karena manusia mempunyai perhatian tertentu
terhadap suatu objek. Analoginya adalah manusia kecendrungannya adalah suka
memperhatikan sesuatu. Sesuatu tersebut bisa berupa orang, benda, dan gejala.
Namun, manusia biasanya lebih suka memperhatikan orang daripada memperhatikan
benda. Kedudukan yang paling tertinggi ialah manusia yang gemar mengamati atau
memperhatikan gejala-gejala yang timbul di alam maupun di masyarakat. Dari
gejala tersebut dapat ditarik suatu gagasan, gagasan ini bisa memberikan suatu
solusi untuk mengatasi gejala-gejala permasalahan tersebut.
Perhatian
itu oleh John Dewey dinamakan sebagai suatu masalah atau kesukaran yang
dirasakan bila manusia menemukan sesuatu dalam pengalamannya yang menimbulkan
pertanyaan. Pertanyaan “mengapa” pun timbul karena adanya kontak manusia dengan
dunia empiris yang menimbulkan berbagai macam permasalahan.
Reaksi Manusia Menghadapi Masalah
Peursen
(1976:18) mengemukakan sikap manusia mengahadapi suatu permasalahan, yaitu
mistis, ontologis, dan fungsional.[4]
Pada zaman dulu, sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan pikiran-pikiran manusia
banyak mengarah kepada hal-hal mistis. Misalnya pada suatu daerah terjadi
bencana gunung meletus, secara ilmiah gunung meletus bisa dipelajari
penyebabnya. namun, pada zaman belum berkembangnya ilmu pengetahuan peristiwa
gunung meletus dianggap sebagai hal yang mistis
atau gaib.
Setelah
berkembangnya zaman, sikap manusia mengahadapi suatu peristiwa adalah dengan
cara berpikir ontologis. Cara
berpikir ontologis adalah bukan lagi membahas soal hal-hal yang gaib melainkan
mengaitkan suatu peristiwa dengan suatu objek yang saling berhubungan. Misalnya,
terjadi bencana alam banjir. Sikap ontologis ini bukan mengarah kepada
dewa-dewa yang murka, namun menganggap bahwa kejadian banjir tersebut karena
curah hujan yang tinggi yang terjadi terus-menerus. Maka, atas kejadian banjir
tersebut manusia memikirkan solusinya agar tidak banjir, dengan cara membuat
banyak waduk disekitar daerah tersebut.
Sesungguhnya
pendekatan secara ontologis ini merupakan dialog antara manusia dengan alam.
Dan sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan adalah melakukan
pemahaman dan dialog dengan alam agar manusia lebih mengenal karakter alam
sehingga dapat mengantisipasi reaksi dan akibat dari segala perilaku manusia
terhadap alam. Sinyal untuk mendekati fenomena alam secara ontologis
sesungguhnya telah termaktub dalam wahyu pertama Alquran, yaitu perintah iqra
(perintah untuk membaca).
Pada
tahap ketiga, manusia memiliki sikap fungsional
dalam menghadapi suatu hal. Tahap fungsional adalah sikap dan alam pikiran yang
makin tampak dalam manusia modern. Ia lebih mementingkan relasi, bukan
distansi.[5]
Pada tahap ini manusia menempati posisi lebih tinggi dari alam. Dalam tahap ini
manusia diberikan keleluasaan untuk mendayagunakan alam. Dalam al-quran manusia
telah diberi rambu-rambu agar tidak merusak alam. Dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan harusnya manusia mampu mengantisipasi konsekuensi dari dampak
apabila manusia merusak alam. Jadi, sikap fungsional ini harus dibarengi dengan
tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk memakai sumber daya alam yang ada.
[1]
HM. Nasruddin Anshoriy, Ch. Dekonstruksi
Kekuasaan Konsolidasi Semangat Kebangsaan, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta
(2008) Hlm. 157.
[2]
Minto Rahayu. Bahasa Indonesia di
Perguruan Tinggi, Jakarta: Grasindo (2007) Hlm. 55.
[3]
Ibid. Hlm. 56
[4]
Wahyudi Siswanto. Pengantar Teori Sastra,
Jakarta: Grasindo (2008) Hlm. 55.
[5]
Ibid.
-->
Tidak ada komentar:
Posting Komentar