Lucky Charms Rainbow -->

Halaman

Senin, 25 Februari 2013

Macam-macam/Tingkat Pengetahuan


Biasanya isi blog ini cuma curhatan gue.. tapi kali ini mau posting tugas.. lumayan mungkin bisa nambah wawasan yang baca. Aamiin.... :)

Pada pertemuan pertama mata kuliah Metodologi Penelitian materi yang disampaikan oleh Bapak  Dr. M. Japar, M.Si adalah tentang Macam-macam/Tingkat Pengetahuan. Macam-macam pengetahuan terdiri dari tiga jenis yaitu Ilmu, Filsafat, dan Agama.  Sebelum menjelaskan mengenai ilmu, filsafat, dan agama terlebih dahulu saya akan menjelaskan pengertian dari pengetahuan. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui sebagai hasil dari interaksi panca indera dengan suatu objek. Pada sekitar 500 SM ada sekelompok filosof di koloni Yunani Elea di Italia Selatan, adalah Parmenides dan Heraclitus yang mempunyai pertentangan pendapat mengenai interaksi  indera.
“Parmenides mengemukakan bahwa persepsi indera tidak dapat dipercaya. Dia yakin bahwa indera-indera kita memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak sesuai dengan akal kita. Sementara Heraclitus menjelaskan bahwa indera kita dapat dipercaya”.[1]
Pertentangan pendapat ini merupakan hasil dari pengetahuan yang dimiliki oleh para filosof tersebut, sesuai dengan pengalaman mereka. Pengalaman adalah salah satu cara memperoleh pengetahuan. Selain pengalaman, cara memperoleh pengetahuan adalah dengan menggunakan intuisi, bisa dengan otoritas, wahyu, logika, serta metode ilmiah.
Intuisi adalah naluri yang telah mendapatkan kesadaran diri, yang dicakapkan untuk memikirkan sasarannya serta memperluas sasaran itu menurut kehendak sendiri tanpa batas. Intuisi adalah suatu bentuk pemikiran yang berbeda dengan akal sebab pemikiran intuisi bersifat dinamis.[2] Penggunaan intuisi tidak dapat dikategorikan sebagai bagian dari metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan. Intuisi biasanya digunakan sebagai pelengkap dari serangkaian kegiatan ilmiah, jika situasi dan kondisi memungkinkan untuk itu. Misalnya, seorang dokter saat memberi pengobatan, seorang psikolog saat memberi nasihat pada klien, mereka semua sedikit banyak pasti menggunakan intuisi.[3]
Otoritas yaitu pengetahuan yang diperoleh dari seseorang yang dianggap mempunyai wewenang atau sangat dihormati. Dengan demikian, pendapat tersebut tidak dapat dibantah lagi, walaupun pendapat tersebut didasari alasan yang lemah atau bahkan tidak masuk akal. Fisikawan Einstein, psikoanalis Sigmund Freud atau ekonom Keynes yang merupakan para ahli dibidangnya masing-masing juga dianggap orang-orang yang memiliki otoritas atau keahlian. Pendapat mereka didasari alasan-alasan yang dapat dikategorikan ilmiah, saran mereka dapat saja diterima atau ditolak, dan merka juga bersedia untuk dikritisi.[4]
Wahyu merupakan sumber pengetahuan yang paling autentik dan paling kuat, tetap mempunyai arena dan tempat sendiri, punya posisi dan hegemoni sendiri. Menjadikan wahyu Ilahi sebagai asal yang autentik dan dominan sebagai salah satu sumber pengetahuan, tidak berarti mengahapus peran akal manusia dan tidak mencekal peran usaha manusiawi. Sebagaimana adanya alam semesta tidak mengahapus peran rasio, justru membuka pintu yang luas bagi pengetahuan untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut.[5]
Logika juga merupakan salah satu cara kita untuk dapat memperoleh pengetahuan mengenai sesuatu hal. Cara penggunaan logika adalah dengan menggunakan akal manusia secara rasional. Misalnya:
­          Semua manusia akan mati (premis pertama)
­          Andi adalah seorang manusia (premis kedua)
­          Andi akan mati (kesimpulan)
Contoh diatas merupakan salah satu contoh kalimat silogisme. Aristoteles merupakan pendiri ilmu Logika. Dia menunjukkan sejumlah hukum yang mengatur kesimpulan-kesimpulan atau bukti-bukti yang sah. Contoh kalimat silogisme diatas merupakan pembuktian bahwa logika Aristoteles didasarkan atas kolerasi pengertian, dalam hal ini “manusia” dan “akan mati” .[6]

Dan yang terakhir adalah dengan menggunakan Metode Ilmiah. Metode ilmiah bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan metode induksi dan metode deduksi. Metode induksi merupakan cara penalaran yang bersifat induktif berarti orang bergerak dari bawah menuju keatas.[7] Artinya, dalam hal ini orang mengawali suatu penalaran dengan memberikan contoh-contoh tentang peristiwa-peristiwa khusus yang sejenis kemudian menarik kesimpulannya yang bersifat umum. Metode induksi harus melihat kenyataan atau fakta yang terjadi pada suatu peristiwa secara empiris.
Metode deduksi merupakan metode yang paling tua keberadaannya, karena metode deduksi ialah metode yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat umum kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.[8] Apabila orang menerapkan cara penalaran yang bersifat deduktif berarti orang bergerak dari atas menuju ke bawah, dari teori yang disampaikan para ahli menuju pemikiran rasionalis.
Dalam memperoleh pengetahuan melalui cara metode ilmiah dengan menggunakan metode induksi maupun deduksi tidak bisa dipisahkan begitu saja. Keduanya harus saling berkesinambungan satu sama lain. Misalanya, dalam suatu perkara kasus korupsi yang ditangani oleh KPK, KPK harus berpikir secara deduktif terlebih dahulu dengan melihat serta memahami aturan-aturan yang berlaku didalam Undang-undang Anti Korupsi, lalu selanjutnya KPK mengeluarkan dugaan sementara atau hipotesa kepada tersangka, dan menggunakan cara berpikir induktif untuk mencari bukti serta fakta-fakta yang ada dalam suatu kasus tersebut.
Setelah membahas mengenai cara-cara memperoleh pengetahuan, selanjutnya akan dijelaskan mengenai pembahasan utama yaitu macam-macam pengetahuan dari mulai Ilmu, Filsafat, hingga Agama. Akan dijelaskan mengenai definisi, dan kaitan antar pengetahuan tersebut. Dimulai dari pengertian Ilmu. Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan pertanyaan ini. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Ilmu memang memberikan kebenaran namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya kebenaran dalam hidup kita ini. Terdapat berbagai sumber kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan kita, dan semua kebenaran itu mempunyai manfaat asal diletakkan pada tempatnya yang layak.[9]
Einstein menyatakan bahwa, “Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Dan kepada merekalah, mereka yang ingin mendapatkan kepuasan dari berpikir keilmuan, mereka yang menganggap berpikir bukan sebagai suatu beban, namun petualangan yang mengasyikan, mereka yang melihat kebenaran sebagai tujuan utama berkehidupan, mereka yang ingin mengkaji hakekat kehidupan dengan lebih mendalam maka kepada merekalah karangan dipersembahkan.[10]
Berlainan dengan agama atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia.[11]
Yang kedua adalah Filsafat. Menurut Hasbullah Bakri, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang mendalam mengenai Ketuhanan alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan.[12]
Hubungan filsafat dengan agama ialah bahwa filsafat suatu agama theologi (ilmu agama) membahas membahas dasar-dasar yang terdalam tentang sesuatu agama tertentu, misalnya: theologi Islam, theologi Nasrani dan theologi Yahudi. Pembahasannya masing-masing tidak lagi mempermasalahkan kebenaran agama yang dibahasnya itu, karena telah diterima sepenuhnya sebagai kebenaran. Sifat pembahasannya juga bersifat analitis, rational, dan kritis dengan tujuan memberikan alasan rational dari pembenaran agama itu. [13]
Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti “tradisi”, sedangkan dalam konsep lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Jika pengetahuan bersumber dari keyakinan terhadap ajaran suatu agama, pengetahuan semacam ini disebut pengetahuan agama.[14] Tingkatan pengetahuan yang paling tertinggi adalah agama. Agama berasal dari wahyu Tuhan. Ilmu, Filsafat, dan Agama berjalan secara sendiri-sendiri tidak saling berbenturan atau bertentangan satu sama lain.


[1] Jostein Gaarder, Dunia Sophie Sebuah Novel Filsafat, Bandung: PT Mizan Pustaka (2004) Hlm. 52.
[2] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern, Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara (2004) Hlm. 144.
[3] Singgih Santoso, Kupas Tuntas Riset EKSPERIMEN dengan Excel 2007 dan Minitab 15, Jakarta: PT Elex Media Komputindo (2010) Hlm. 3.
[4] Ibid. Hlm. 4.
[5] Abdul Majid an-Najjar, Khilafah Tinjauan Wahyu dan Akal, Jakarta: Gema Insani Press (2005) Hlm. 8.
[6] Jostein Gaarder, Op. Cit. Hlm. 133.
[7] Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada (2004) Hlm. 57.
[8] Ibid. Hlm. 58.
[9] Jujun S. Sumantri, Ilmu dalam Perspketif, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (2003) Hlm. 3.
[10] Ibid. Hlm. 4.
[11] Ibid. Hlm. 5.
[12] Sudarto, Op. Cit. Hlm. 7.
[13] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta: PT Bumi Aksara (2008) Hlm. 6.
[14] Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Jakarta: Gramedia Pustaka (2007) Hlm. 2.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar