Biasanya isi blog ini cuma curhatan gue.. tapi kali ini mau posting tugas.. lumayan mungkin bisa nambah wawasan yang baca. Aamiin.... :)
Pada
pertemuan pertama mata kuliah Metodologi Penelitian materi yang disampaikan
oleh Bapak Dr. M. Japar, M.Si adalah
tentang Macam-macam/Tingkat Pengetahuan. Macam-macam pengetahuan terdiri dari
tiga jenis yaitu Ilmu, Filsafat, dan Agama.
Sebelum menjelaskan mengenai ilmu, filsafat, dan agama terlebih dahulu saya
akan menjelaskan pengertian dari pengetahuan. Pengetahuan adalah segala sesuatu
yang kita ketahui sebagai hasil dari interaksi panca indera dengan suatu objek.
Pada sekitar 500 SM ada sekelompok filosof di koloni Yunani Elea di Italia
Selatan, adalah Parmenides dan Heraclitus yang mempunyai pertentangan pendapat
mengenai interaksi indera.
“Parmenides
mengemukakan bahwa persepsi indera tidak dapat dipercaya. Dia yakin bahwa
indera-indera kita memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu
gambaran yang tidak sesuai dengan akal kita. Sementara Heraclitus menjelaskan
bahwa indera kita dapat dipercaya”.[1]
Pertentangan
pendapat ini merupakan hasil dari pengetahuan yang dimiliki oleh para filosof
tersebut, sesuai dengan pengalaman mereka. Pengalaman adalah salah satu cara
memperoleh pengetahuan. Selain pengalaman, cara memperoleh pengetahuan adalah
dengan menggunakan intuisi, bisa dengan otoritas, wahyu, logika, serta metode
ilmiah.
Intuisi
adalah naluri yang telah mendapatkan kesadaran diri, yang dicakapkan untuk
memikirkan sasarannya serta memperluas sasaran itu menurut kehendak sendiri
tanpa batas. Intuisi adalah suatu bentuk pemikiran yang berbeda dengan akal
sebab pemikiran intuisi bersifat dinamis.[2]
Penggunaan intuisi tidak dapat dikategorikan sebagai bagian dari metode ilmiah
yang menghasilkan pengetahuan. Intuisi biasanya digunakan sebagai pelengkap
dari serangkaian kegiatan ilmiah, jika situasi dan kondisi memungkinkan untuk
itu. Misalnya, seorang dokter saat memberi pengobatan, seorang psikolog saat
memberi nasihat pada klien, mereka semua sedikit banyak pasti menggunakan
intuisi.[3]
Otoritas
yaitu pengetahuan yang diperoleh dari seseorang yang dianggap mempunyai
wewenang atau sangat dihormati. Dengan demikian, pendapat tersebut tidak dapat
dibantah lagi, walaupun pendapat tersebut didasari alasan yang lemah atau
bahkan tidak masuk akal. Fisikawan Einstein, psikoanalis Sigmund Freud atau
ekonom Keynes yang merupakan para ahli dibidangnya masing-masing juga dianggap
orang-orang yang memiliki otoritas atau keahlian. Pendapat mereka didasari
alasan-alasan yang dapat dikategorikan ilmiah, saran mereka dapat saja diterima
atau ditolak, dan merka juga bersedia untuk dikritisi.[4]
Wahyu
merupakan sumber pengetahuan yang paling autentik dan paling kuat, tetap
mempunyai arena dan tempat sendiri, punya posisi dan hegemoni sendiri.
Menjadikan wahyu Ilahi sebagai asal yang autentik dan dominan sebagai salah
satu sumber pengetahuan, tidak berarti mengahapus peran akal manusia dan tidak
mencekal peran usaha manusiawi. Sebagaimana adanya alam semesta tidak
mengahapus peran rasio, justru membuka pintu yang luas bagi pengetahuan untuk
dikaji dan diteliti lebih lanjut.[5]
Logika
juga merupakan salah satu cara kita untuk dapat memperoleh pengetahuan mengenai
sesuatu hal. Cara penggunaan logika adalah dengan menggunakan akal manusia
secara rasional. Misalnya:
Semua
manusia akan mati (premis pertama)
Andi
adalah seorang manusia (premis kedua)
Andi
akan mati (kesimpulan)
Contoh
diatas merupakan salah satu contoh kalimat silogisme. Aristoteles merupakan
pendiri ilmu Logika. Dia menunjukkan sejumlah hukum yang mengatur
kesimpulan-kesimpulan atau bukti-bukti yang sah. Contoh kalimat silogisme
diatas merupakan pembuktian bahwa logika Aristoteles didasarkan atas kolerasi
pengertian, dalam hal ini “manusia” dan “akan mati” .[6]
Dan
yang terakhir adalah dengan menggunakan Metode
Ilmiah. Metode ilmiah bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan
menggunakan metode induksi dan metode deduksi. Metode induksi merupakan cara
penalaran yang bersifat induktif berarti orang bergerak dari bawah menuju
keatas.[7]
Artinya, dalam hal ini orang mengawali suatu penalaran dengan memberikan
contoh-contoh tentang peristiwa-peristiwa khusus yang sejenis kemudian menarik
kesimpulannya yang bersifat umum. Metode induksi harus melihat kenyataan atau
fakta yang terjadi pada suatu peristiwa secara empiris.
Metode
deduksi merupakan metode yang paling tua keberadaannya, karena metode deduksi
ialah metode yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan bertitik
tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat umum kemudian
menarik kesimpulan yang bersifat khusus.[8]
Apabila orang menerapkan cara penalaran yang bersifat deduktif berarti orang
bergerak dari atas menuju ke bawah, dari teori yang disampaikan para ahli
menuju pemikiran rasionalis.
Dalam
memperoleh pengetahuan melalui cara metode ilmiah dengan menggunakan metode
induksi maupun deduksi tidak bisa dipisahkan begitu saja. Keduanya harus saling
berkesinambungan satu sama lain. Misalanya, dalam suatu perkara kasus korupsi
yang ditangani oleh KPK, KPK harus berpikir secara deduktif terlebih dahulu
dengan melihat serta memahami aturan-aturan yang berlaku didalam Undang-undang
Anti Korupsi, lalu selanjutnya KPK mengeluarkan dugaan sementara atau hipotesa
kepada tersangka, dan menggunakan cara berpikir induktif untuk mencari bukti
serta fakta-fakta yang ada dalam suatu kasus tersebut.
Setelah
membahas mengenai cara-cara memperoleh pengetahuan, selanjutnya akan dijelaskan
mengenai pembahasan utama yaitu macam-macam pengetahuan dari mulai Ilmu,
Filsafat, hingga Agama. Akan dijelaskan mengenai definisi, dan kaitan antar
pengetahuan tersebut. Dimulai dari pengertian Ilmu. Ilmu merupakan salah satu
dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan pertanyaan ini. Ilmu
merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Ilmu memang memberikan kebenaran
namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya kebenaran dalam hidup kita ini.
Terdapat berbagai sumber kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan
kita, dan semua kebenaran itu mempunyai manfaat asal diletakkan pada tempatnya
yang layak.[9]
Einstein
menyatakan bahwa, “Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah
lumpuh”. Dan kepada merekalah, mereka yang ingin mendapatkan kepuasan dari
berpikir keilmuan, mereka yang menganggap berpikir bukan sebagai suatu beban,
namun petualangan yang mengasyikan, mereka yang melihat kebenaran sebagai
tujuan utama berkehidupan, mereka yang ingin mengkaji hakekat kehidupan dengan
lebih mendalam maka kepada merekalah karangan dipersembahkan.[10]
Berlainan
dengan agama atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri
hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup
seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia.[11]
Yang
kedua adalah Filsafat. Menurut Hasbullah Bakri, filsafat adalah ilmu yang
menyelidiki segala sesuatu yang mendalam mengenai Ketuhanan alam semesta dan
manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya
sejauh yang dapat dicapai akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu
seharusnya setelah mencapai pengetahuan.[12]
Hubungan
filsafat dengan agama ialah bahwa filsafat suatu agama theologi (ilmu agama)
membahas membahas dasar-dasar yang terdalam tentang sesuatu agama tertentu,
misalnya: theologi Islam, theologi Nasrani dan theologi Yahudi. Pembahasannya
masing-masing tidak lagi mempermasalahkan kebenaran agama yang dibahasnya itu,
karena telah diterima sepenuhnya sebagai kebenaran. Sifat pembahasannya juga
bersifat analitis, rational, dan kritis dengan tujuan memberikan alasan
rational dari pembenaran agama itu. [13]
Kata
“agama” berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti “tradisi”, sedangkan
dalam konsep lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari
bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti
“mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya
kepada Tuhan. Jika pengetahuan bersumber dari keyakinan terhadap ajaran suatu
agama, pengetahuan semacam ini disebut pengetahuan agama.[14]
Tingkatan pengetahuan yang paling tertinggi adalah agama. Agama berasal dari
wahyu Tuhan. Ilmu, Filsafat, dan Agama berjalan secara sendiri-sendiri tidak
saling berbenturan atau bertentangan satu sama lain.
[1]
Jostein Gaarder, Dunia Sophie Sebuah
Novel Filsafat, Bandung: PT Mizan Pustaka (2004) Hlm. 52.
[2]
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim
Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern, Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara
(2004) Hlm. 144.
[3]
Singgih Santoso, Kupas Tuntas Riset
EKSPERIMEN dengan Excel 2007 dan Minitab 15, Jakarta: PT Elex Media
Komputindo (2010) Hlm. 3.
[4]
Ibid. Hlm. 4.
[5]
Abdul Majid an-Najjar, Khilafah Tinjauan
Wahyu dan Akal, Jakarta: Gema Insani Press (2005) Hlm. 8.
[6]
Jostein Gaarder, Op. Cit. Hlm. 133.
[7]
Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat,
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada (2004) Hlm. 57.
[8]
Ibid. Hlm. 58.
[9]
Jujun S. Sumantri, Ilmu dalam Perspketif,
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (2003) Hlm. 3.
[10]
Ibid. Hlm. 4.
[11]
Ibid. Hlm. 5.
[12]
Sudarto, Op. Cit. Hlm. 7.
[13]
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat,
Jakarta: PT Bumi Aksara (2008) Hlm. 6.
[14]
Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok
Filsafat Hukum, Jakarta: Gramedia Pustaka (2007) Hlm. 2.
-->
Tidak ada komentar:
Posting Komentar